Kebaya & Gaya Hidup 2010
Bila ada busana yang memberikan banyak inspirasi terhadap ”fashion”, status sosial, ataupun identitas, itu adalah kebaya. Bagi kita, kebaya lekat dengan keseharian. Busana itu dipakai nenek dan orang tua, mulai dari si mbok penjual jamu sampai ibu negara.
Pada sebuah sore di pengujung April, tetamu memenuhi pergelaran kebaya Amy Atmanto di sebuah pusat pertokoan elite di kawasan Thamrin, Jakarta. Pejabat, mantan pejabat, dan sosialita berbaur menjadi satu. Sebut saja Linda Agum Gumelar, Siti Fadilah Supari, Mien Uno, Rima Melati, Tati Fauzi Bowo, sampai Marini Zumarnis dan Diah Permata Sari. Semua mengenakan kebaya dan mereka saling memuji kebaya yang digunakan satu sama lain.
Yang menarik, tidak saja nuansa warna-warni yang memenuhi ruangan, tetapi juga tak ada kebaya yang tampak ”seragam”. Kebaya merah yang dikenakan Fadilah Supari, misalnya, jauh dari kesan formal. Kain yang dikenakannya pun terlihat santai, mirip lilitan sarung. Dalam balutan kebaya, sosok Fadilah yang selama menjadi menteri kesehatan dulu dikenal lugas justru terkesan lebih rileks.
Kebaya menjadi hot issue di sepanjang April lalu. Bisa jadi karena April erat terkait dengan Hari Kartini, sementara peringatan Kartini kerap diasosiasikan dengan kebaya. Bulan itu juga biasanya merupakan kesempatan bagi para perancang senior dan baru untuk menginterpretasikan kembali kebaya sesuai dengan karakter perempuan Indonesia terkini.
Menengok ke belakang, perjalanan kebaya sudah sangat panjang. Kebaya pertama kali dipakai di Indonesia sekitar abad ke-16. Menurut pemilik rumah kain Bin House, Josephine Komara, atau dikenal dengan Obin, orang Indonesia dulu tidak mengenal budaya memakai baju, tetapi memakai kemben. ”Baju mulai dikenal ketika orang Portugis dan Belanda datang. Baju ini kemudian dipakai dengan tetap memakai kemben sehingga muncullah bentuk kebaya, kebaya bef,” kata Obin.
Berhubung budaya kancing belum dikenal di Indonesia, perempuan pada masa lalu memakai peniti untuk menyatukan dua sisi baju. ”Dan, lahirlah bentuk kebaya Kartini. Ditambah manik-manik, jadilah peniti ini juga berfungsi hiasan,” kata Obin, yang mengenal kebaya sejak kecil. Ia mengaku sangat menikmati memakai kebaya. ”Perempuan tentunya punya kecenderungan memakai sesuatu yang membuatnya lebih cantik dan nyaman. Untuk itu, saya memilih kebaya,” katanya.
Simbol politik
Dalam perjalanannya, kebaya telah memerankan aneka fungsi, baik politik, sosial, maupun budaya. Henk Schulte Nordholt dalam bukunya, Outward Appearances, misalnya, menuliskan betapa kebaya pernah menjadi simbol politik perempuan Indonesia.
Selama periode pendudukan Jepang (1942-1945), para perempuan Indonesia yang kala itu menjadi tahanan perang memilih mengenakan kain kebaya ketimbang mengenakan baju tahanan ala Barat. Sikap ini menunjukkan posisi politik untuk membedakan mereka dengan para perempuan tahanan perang asal Belanda.
Tak mengherankan jika pasca-kemerdekaan Presiden Soekarno kemudian mentransformasi kebaya sebagai busana nasional. Namun, posisi ”terhormat’ itu pupus pada era Orde Baru. Kebaya menjadi seragam wajib Dharma Wanita dan perempuan di lingkungan pegawai negeri wajib menjadi anggota Dharma Wanita. Fungsi ”kontrol” yang dipaksakan melalui kebaya membuat sebagian perempuan yang melek politik pada masa itu bersikap antipati dan mengaitkan kebaya sebagai simbol ”opresi’.
”Dulu kebaya menjadi simbol pengekangan terhadap perempuan. Hal itu bisa dilihat pada zaman Orde Baru, terutama di kalangan ibu-ibu Dharma Wanita. Mereka rela tersiksa dengan mengenakan kebaya dan kain ketat agar tampil cantik dan anggun. Ketika itu, kebaya tampil sebagai uniform atau seragam,” kata sosiolog Julia Suryakusuma.
Namun, kini kebaya lebih merupakan bagian dari fashion dan gaya hidup. Kebaya tidak lagi dimaknai dengan kaku. ”Kita bisa melacak kecenderungan bahwa yang diutak-atik para desainer itu tidak jauh-jauh dari kebaya dan batik. Rupanya, kesadaran politik bahwa kebaya adalah pakaian nasional sudah tertanam kuat,” tutur Julia.
Kolaborasi di antara para perempuan, pengusaha mode, perancang busana, dan pencinta budaya untuk menginspirasi generasi muda bahwa kebaya merupakan salah satu identitas bangsa yang perlu dipelihara mulai terlihat. Dalam beberapa tahun terakhir, tren kebaya terus menguat dalam keseharian kaum muda. Tentunya dalam gaya dan potongan yang disesuaikan.
”Sekarang ini ada kebaya berlengan pendek. Mereka, bahkan, memadukan dengan celana jins. Saya juga membikin kebaya dengan tangan tiga perempat supaya lebih elegan, enggak ribet, dan bisa dipakai sebagai daily wear,” kata Obin.
Bolehlah kita berharap kebaya juga akan mengikuti jejak batik yang saat ini sudah menjadi bagian dari busana sehari-hari. Jangan sampai negara lain keburu mengetap kebaya sebagai busana nasionalnya dan kemudian kita mencak-mencak (lalu ramai-ramai lantang bicara tentang kebaya—tanpa pernah memakainya). Kebaya, yes!
Busana Pengantin Anggun Bergaya Eropa
Modifikasi kebaya pengantin dengan paduan kain khas Bengkulu, Basurek, dengan desain bergaya Eropa, menjadi karakter khas koleksi Baes by Mulyadi 2010.
Untuk ketiga kalinya pada tahun 2010, perancang muda Mulyadi menggelar koleksi busana pengantinnya. Kali ini gaya Victorian yang jelas tampak pada rancangannya.
"Kain Basurek dimodifikasi dalam rancangan kebaya dengan sentuhan internasional. Gaya Victorian terlihat pada bagian rok atau kerah. Aksesorinya juga lebih banyak, dengan payet dan bolero pada gaun pengantinnya," papar Mulyadi kepadaKompas Female usai fashion show di Grand Wedding Festival 2010 di Balai Samudra Kelapa Gading, Jakarta, Minggu (18/4/2010) lalu.
Soal konsep warna, pernikahan umumnya masih sangat identik dengan gold, tembaga bakar, atau broken white. Begitupun dengan 10 koleksi busana pengantin Baes by Mulyadi.
Tiga desain busana pengantin prianya terlihat mengikuti tradisi model jas beskap. Pemilihan warnanya cerah, dengan penuh payet berkesan mewah. Sedangkan tujuh koleksi gaun pengantinnya memberi kesan elegan yang juga sarat tradisi.
Menyinggung tren busana pengantin, Mulyadi mengaku bahwa desain, model, dan warna kembali kepada konsep pernikahan dan selera masing-masing pasangan. Jadi, temukan rancangan busana pengantin yang sesuai dengan tema pernikahan, dan memenuhi selera Anda.
Metamorfosis Kebaya Modern 2010

"Tahun ini saya mengangkat tema Putri Kedhaton sendiri merupakan sebuah inspirasi tiada batas. Cantik, pribadi anggun, dan elegan. Dengan aksesoris berbagai macam memberi efek bahwa wanita adalah cantik," terang Tomy Tri Wahyudi kepada Kompas Female, usai peragaan busananya di acara MKE Five Star Wedding Exhibition East Meets West Part 2, yang berlangsung di Hotel Ritz Carlton, Pacific Place, Jakarta, beberapa waktu lalu. Di tahun kesebelas ia berkarya, Tomy, dengan label House of Tomy mencoba melawan arus. "Saya melihat beberapa teman yang mendesain pakaian pengantin mengambil rancangan yang sangat internasional. Tapi saya mencoba tetap di desain tradisional. Karena menurut saya, meski semaskulin apa pun wanita Indonesia, pada hari pernikahannya ia akan kembali menggunakan kebaya," tuturnya. Mengikuti tema yang dinaikkan oleh penyelenggara acara, Tomy mencoba mengawinkan pakem-pakem tradisional kebaya khas Jawa dengan karakter wanita yang berbeda-beda. Desain-desain Tomy yang mencoba mengambil gaya berbeda, membuat rancangannya terlihat berbeda. "Saya berusaha menampilkan karakter-karakter wanita melalui rancangan ini. Ada wanita yang maskulin, yang biasanya tak ingin repot, tapi tetap ingin kebayaan, ia bisa menggunakan rancangan yang menggunakan celana panjang atau legging yang terbuat dari kain prada, saya namakan Kebaya Srikandi, (lihat galeri di sini)" cerita Tomy. Selain celana panjang yang menyita perhatian, Tomy juga mencoba mendesain pakaian kebaya pengantin dengan rok mini. "Kebaya dengan rok mini saya tampilkan untuk wanita yang ultrafeminin," pungkasnya. Nampaknya, melalui desain-desain yang tak biasanya ini, Tomy memiliki sebuah cita-cita. "Saya ingin memberikan desain berbeda melalui kebaya-kebaya ini. Menurut saya, kebaya pun bisa jadi taste internasional, dan tidak hanya dipakai orang Indonesia. Harapannya bisa juga dikenakan dan disukai oleh orang-orang dari luar negeri," tutur Tomy yang mengenakan batik dipadu dengan celana jins, serta tas selempang berwarna putih malam itu. Untuk ke-12 desain yang ia tampilkan malam itu, Tomy banyak menggunakan bahan-bahan french lace (brokat Perancis), brokat Italia, organza sutera, dan sifon sutera yang dalam proses handpainting. Satu lagi yang cukup membuat kejutan dari desain House of Tomy adalah penggunaan kain handpainting pada kain bagian belakang. Di rancangannya, ia menggunakan lukisan Rama-Sinta, Kereta Kencana, dan Loro Blonyo. Meski memang bukan hal yang baru, karena lukisan pada kain ini juga pernah digunakan pada beberapa desainer lain, namun untuk dikenakan pada pakaian pengantin, rancangan Tomy cukup membuat kejutan. Tak sulit untuk membedakan rancangan Tomy dari busana pengantin adat Jawa lainnya. Pasalnya, Tomy banyak menggunakan detail dan warna yang cenderung banyak. Bahkan dalam satu rancangan bisa lebih dari 5 warna yang ia gunakan. Tomy mengakui, "Ya, itu adalah ciri saya. Saya suka menggabung-gabungkan warna-warna kontras. Ada merah, biru, kuning, hijau, oranye, dan lainnya. Tapi saya mencoba mencampur warna pada detail-detail ini di hasil akhirnya akan mencipta suatu harmoni. Kalau hanya satu warna dari atas sampai bawah, rasanya bukan House of Tomy, deh." Selain itu, ciri khas yang ingin ditonjolkan Tomy adalah kepraktisan dalam penggunaan. Ia mengatakan, bahwa pada rancangannya, ia ingin si pengantin merasa nyaman, tanpa perlu repot menggunakan banyak bahan dan lapisan. Jadi, kebaya yang ia rancang sudah ditempelkan langsung pada bustier, sehingga si pengantin tinggal pakai seperti pakaian biasa. Untuk harga, "Mulai dari Rp 30 juta," ujar Tomy yang berencana untuk membuka toko di Jakarta tahun ini.
Produk Kebaya
Blog Archive
-
▼
2010
(39)
-
▼
Agustus
(8)
- Tips Top Menjaga Hubungan Pasutri Selama Ramadhan
- Adaptasi setelah menikah
- Tips Cepat Mencari Jodoh bagi wanita usia 30 Tahun
- Apakah Anda sudah layak untuk menikah ?
- Mengapa Pria Lebih Tertutup Soal Cinta
- Mengapa Pria Lebih Tertutup Soal Cinta
- Destinasi Bulan Madu Yang Indah di Indonesia
- Makanan Sehat Pasca Melahirkan
-
▼
Agustus
(8)

