Metamorfosis Kebaya Modern 2010

Posted by Kebaya on


Bookmark and Share

"Tahun ini saya mengangkat tema Putri Kedhaton sendiri merupakan sebuah inspirasi tiada batas. Cantik, pribadi anggun, dan elegan. Dengan aksesoris berbagai macam memberi efek bahwa wanita adalah cantik," terang Tomy Tri Wahyudi kepada Kompas Female, usai peragaan busananya di acara MKE Five Star Wedding Exhibition East Meets West Part 2, yang berlangsung di Hotel Ritz Carlton, Pacific Place, Jakarta, beberapa waktu lalu. Di tahun kesebelas ia berkarya, Tomy, dengan label House of Tomy mencoba melawan arus. "Saya melihat beberapa teman yang mendesain pakaian pengantin mengambil rancangan yang sangat internasional. Tapi saya mencoba tetap di desain tradisional. Karena menurut saya, meski semaskulin apa pun wanita Indonesia, pada hari pernikahannya ia akan kembali menggunakan kebaya," tuturnya. Mengikuti tema yang dinaikkan oleh penyelenggara acara, Tomy mencoba mengawinkan pakem-pakem tradisional kebaya khas Jawa dengan karakter wanita yang berbeda-beda. Desain-desain Tomy yang mencoba mengambil gaya berbeda, membuat rancangannya terlihat berbeda. "Saya berusaha menampilkan karakter-karakter wanita melalui rancangan ini. Ada wanita yang maskulin, yang biasanya tak ingin repot, tapi tetap ingin kebayaan, ia bisa menggunakan rancangan yang menggunakan celana panjang atau legging yang terbuat dari kain prada, saya namakan Kebaya Srikandi, (lihat galeri di sini)" cerita Tomy. Selain celana panjang yang menyita perhatian, Tomy juga mencoba mendesain pakaian kebaya pengantin dengan rok mini. "Kebaya dengan rok mini saya tampilkan untuk wanita yang ultrafeminin," pungkasnya. Nampaknya, melalui desain-desain yang tak biasanya ini, Tomy memiliki sebuah cita-cita. "Saya ingin memberikan desain berbeda melalui kebaya-kebaya ini. Menurut saya, kebaya pun bisa jadi taste internasional, dan tidak hanya dipakai orang Indonesia. Harapannya bisa juga dikenakan dan disukai oleh orang-orang dari luar negeri," tutur Tomy yang mengenakan batik dipadu dengan celana jins, serta tas selempang berwarna putih malam itu. Untuk ke-12 desain yang ia tampilkan malam itu, Tomy banyak menggunakan bahan-bahan french lace (brokat Perancis), brokat Italia, organza sutera, dan sifon sutera yang dalam proses handpainting. Satu lagi yang cukup membuat kejutan dari desain House of Tomy adalah penggunaan kain handpainting pada kain bagian belakang. Di rancangannya, ia menggunakan lukisan Rama-Sinta, Kereta Kencana, dan Loro Blonyo. Meski memang bukan hal yang baru, karena lukisan pada kain ini juga pernah digunakan pada beberapa desainer lain, namun untuk dikenakan pada pakaian pengantin, rancangan Tomy cukup membuat kejutan. Tak sulit untuk membedakan rancangan Tomy dari busana pengantin adat Jawa lainnya. Pasalnya, Tomy banyak menggunakan detail dan warna yang cenderung banyak. Bahkan dalam satu rancangan bisa lebih dari 5 warna yang ia gunakan. Tomy mengakui, "Ya, itu adalah ciri saya. Saya suka menggabung-gabungkan warna-warna kontras. Ada merah, biru, kuning, hijau, oranye, dan lainnya. Tapi saya mencoba mencampur warna pada detail-detail ini di hasil akhirnya akan mencipta suatu harmoni. Kalau hanya satu warna dari atas sampai bawah, rasanya bukan House of Tomy, deh." Selain itu, ciri khas yang ingin ditonjolkan Tomy adalah kepraktisan dalam penggunaan. Ia mengatakan, bahwa pada rancangannya, ia ingin si pengantin merasa nyaman, tanpa perlu repot menggunakan banyak bahan dan lapisan. Jadi, kebaya yang ia rancang sudah ditempelkan langsung pada bustier, sehingga si pengantin tinggal pakai seperti pakaian biasa. Untuk harga, "Mulai dari Rp 30 juta," ujar Tomy yang berencana untuk membuka toko di Jakarta tahun ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar